Proyek Revitalisasi SMPN 1 Loceret Senilai Rp2,3 Miliar Disorot, Diduga Hanya Tambal Sulam
Nganjuk,NNews.co.id – Tahun ini pemerintah pusat lagi gencar menggelontorkan dana negara untuk Proyek revitalisasi bangunan sekolah, salahsatunya di Nganjuk Jawa Timur.
Namun sayangnya pembangunan terlihat asal asalan. Dana milliaran hanya untuk atap dan tambal sulan tembok saja.
Salahsatunya terlihat di SMP Negeri (SMPN) 1 Loceret di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dengan nilai anggaran lebih dari Rp2,3 miliar, menjadi sorotan.
Pasalnya, hasil pekerjaan di lapangan diduga belum maksimal karena sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan terlihat hanya diperbaiki dengan metode tambal sulam.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah tembok yang terlihat retak tidak dibongkar dan diganti dengan dinding baru, melainkan hanya ditambal.
Selain itu, beberapa bagian kayu yang kondisinya tampak rusak parah juga terlihat belum diganti.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan rehabilitasi, terutama pada bagian bangunan yang menopang struktur atap.
Atap dengan rangka kayu berukuran besar dan genting memiliki beban yang perlu diperhitungkan. Karena itu, kondisi dinding dan rangka bangunan perlu dipastikan aman melalui pemeriksaan teknis oleh pihak yang berwenang.
Tak hanya soal kualitas pekerjaan, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) para pekerja juga menjadi perhatian.
Saat melakukan pekerjaan di bagian atap untuk membenahi genting, sejumlah pekerja terlihat tidak mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti helm keselamatan dan rompi kerja. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja.
Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut memiliki nilai lebih dari Rp2,3 miliar.
Pekerjaan mencakup rehabilitasi 10 ruang kelas, tiga ruang laboratorium, serta satu kamar mandi, dengan total 14 ruangan.
Sementara itu, salah seorang pekerja mengaku pekerjaan dilakukan dengan cepat karena harus diselesaikan paling lambat akhir Desember 2026.
Meski demikian, percepatan pekerjaan diharapkan tidak mengabaikan kualitas bangunan maupun keselamatan para pekerja.
Pemeriksaan menyeluruh terhadap bagian dinding yang retak, kayu yang rusak, serta struktur penyangga atap diperlukan untuk memastikan hasil rehabilitasi sesuai spesifikasi teknis dan aman digunakan.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait mengenai kondisi bangunan, metode perbaikan yang diterapkan, serta pengawasan terhadap kualitas pekerjaan dan penerapan standar kayu.
Pihak terkait diharapkan memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan proyek tersebut agar penggunaan anggaran negara dapat dipertanggungjawabkan dan hasil revitalisasi benar-benar memenuhi standar kualitas serta keselamatan bangunan.
Yohanes Aberto



