Lestarikan Adat Jawa, Warga Gelar Tradisi Tedak Siten dengan Berebut Uang Koin
Nganjuk,NNews.co.id – Tradisi adat Jawa Piton-Piton atau yang juga dikenal dengan Tedak Siten masih lestari di tengah masyarakat. Seperti yang digelar warga di Dusun Kepuhtelu, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Prosesi syukuran bayi usia 7 hingga 8 bulan ini berlangsung meriah dengan ritual kroyokan uang koin yang disaksikan banyak warga.
Dalam tradisi Jawa, usia 7 sampai 8 bulan bagi seorang anak disebut dengan istilah piton-piton. Momen ini dianggap sebagai fase penting pertumbuhan anak, sehingga perlu disyukuri dan disedekahi melalui selamatan.
Lamijo selaku sesepuh pemimpin upacara adat mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upacara adat dan wajib bagi orang jawa mengadakan kegiatan seperti ini.
“Kalau tradisi orang Jawa, anak umur 7 bulan atau 7 sampai 8 bulan itu dinamakan piton-piton. Maka dari itu, disyukuri atau disedekahi,” jelas Lamijo.
Rangkaian prosesi piton-piton ini diawali dengan kegiatan kondangan atau sedekahan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Setelah itu, sang bayi dimandikan terlebih dahulu sebelum masuk ke acara puncak.
“Sebelum diadakan kroyokan yaitu setelah mengadakan kondangan atau sedekahan, terus mengadakan mandi, dimandiin dulu. Setelah dimandiin, langsung diadakan kroyokan,” tuturnya.
Acara yang paling ditunggu adalah tradisi kroyokan atau sebar uang koin. Dalam prosesi ini, uang koin disebarkan dan diperebutkan oleh warga yang hadir.
“Disebarkan uang koin, sampai orang meliput orang banyak, sampai orang luar dari desa atau Dukuh Kodil,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa piton-piton merupakan tradisi yang masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.
“Iya, kebanyakan orang dari orang Jawa juga. Kalau adat orang Jawa pasti mengadakan piton-piton,” tambahnya.
Meski begitu, tradisi ini tidak bersifat wajib dan memaksa. Bagi keluarga yang kurang mampu, tidak perlu dipaksakan untuk menggelar secara besar-besaran.
“Kalau itu nggak bisa dipaksakan. Kalau yang istilahnya nggak punya, paling nggak ya nggak perlu. Tapi kalau memang itu mampu, ya harus diadakan tedak sinten gitu,” jelasnya.
Adapun harapan besar yang dipanjatkan dalam tradisi piton-piton ini adalah untuk masa depan sang anak.
“Harapannya itu anak biar nanti bisa mandiri dan cerdas,” pungkasnya.
Tradisi piton-piton ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal Jawa masih terjaga, sebagai doa dan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, cerdas, dan berbakti.
Yohanes Aberto



