HeadlineJawa TimurNganjuk

Miskin Naik Desil, Bupati Nganjuk Langsung Bantu Bedah Rumah Rp20 Juta

Nganjuk, NNews.co.id – Nasib memprihatinkan dialami Warsidi, seorang duda berusia 70 tahun yang hidup sebatang kara di rumah reot berukuran 2 x 10 meter di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Ironisnya, meski hidup di bawah garis kemiskinan, desil kesejahteraannya justru naik dari tingkat 2 menjadi 6 sehingga sejumlah bantuan sosial yang selama ini diterimanya terputus.

Rumah yang ditempati Warsidi jauh dari kata layak. Sebagian bangunannya terbuat dari tembok, sementara bagian lainnya menggunakan anyaman kayu yang sudah lapuk. Hampir seluruh sisi rumah mengalami kebocoran dan kondisinya rawan ambruk.

Warsidi mengaku khawatir rumahnya roboh ketika hujan deras disertai angin kencang. Di usianya yang sudah senja, ia juga tidak lagi mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

” Untuk bertahan hidup, saya hanya mengandalkan bantuan dari keponakan dan warga sekitar pak, “ungkapnya

Kondisi semakin memprihatinkan setelah status desil kesejahteraannya naik dari tingkat 2 menjadi 6. Padahal, dengan kondisi ekonomi yang dialaminya, Warsidi seharusnya masuk dalam kelompok desil 1 atau 2.

Akibat perubahan tersebut, bantuan kesehatan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) yang sebelumnya diterimanya kini terhenti.

Mengetahui kondisi tersebut, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) langsung meninjau rumah Warsidi.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati memberikan bantuan bedah rumah senilai Rp20 juta untuk memperbaiki tempat tinggal Warsidi agar menjadi lebih layak huni.

” Selain bantuan perbaikan rumah, kami juga berupaya mengusulkan perubahan data desil kesejahteraan Warsidi agar dapat kembali masuk desil 2 dan memperoleh hak atas bantuan sosial yang sesuai dengan kondisi ekonominya, “ujarnya

Selain kondisi rumah yang memprihatinkan, Warsidi juga belum memiliki fasilitas sanitasi yang memadai. Untuk buang air, ia harus berjalan sekitar 25 meter jamban
berupa lubang tanah.

Bantuan perbaikan rumah dan upaya pembaruan data kesejahteraan diharapkan dapat meringankan beban hidup Warsidi sekaligus memastikan dirinya memperoleh bantuan sesuai kondisi yang sebenarnya.

Hariadi Soewandito

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button